8 Dec 2014

Hidupku

Aku
Hidup dengan cara ku
Karna ini hidup ku

Aku
Belok sesuka ku
Karna ini jalan ku 

Aku
Yang berteman dengan ego ku

26 Jan 2014

Gengsi


Kisah ini berawal dari seorang anak laki laki dari empat bersaudara dengan beckground orang tua petani. Kehidupan sederhana dipinggiran kota dengan suara kokokan ayam sebagai alaram, kicauan burung pemandu pagi, dan lenguhan sapi dikelabu senja.

Dia lumayan pintar dan punya kemauan untuk belajar. Lingkungan dia berkembang mengajarkannya arti hidup dan arti mensyukuri hidup

Membantu orang tuanya mengembalai sapi sebelum dan sesudah sekolah merupakan hal yang biasa baginya. Menjelang musim panen merupakan hari hari yang sibuk. Menancapkan orang orangan sawah dipenjuru lahan orang tuanya yang luas. Mengusir burung burung pencuri yang memakan padi yang hampir menguning sepenuhnya. Memanen seharian penuh bersenjatakan arit dan topi rotan sebagai penghalang panas

Walaupun berat
Walaupun letih
Dia tidak pernah mengeluh
Dia menjalaninya dengan syukur
Dan bertekat menjadi orang yang sukses, agar kelak, saat anaknya hendak sekolah tidak perlu membantunya memasukkan itik kekandang, menghalau burung disawah, atau memberi makan ternak

Kisah baru telah dimulai. Dengan tokoh utama seorang anak tunggal dari keluarga berkecukupan. Keluarganya mengajarinya cara hidup sederhana. Lebih tepatnya hidup sederhanalah yang mendarah daging pada orang tuanya, yang telah dia jadikan teladan

Karaktrer seorang anak tunggal secara alami melekat pada dirinya, dia tumbuh menjadi seorang yang sangat egois. Dia tidak peduli pendapat orang lain. Asalkan menurut hati nuraninya benar, akan dia lakukan apapun resikonya. Hai ini sangat disayangkan oleh teman temannya

Kesederhanaan kelarga yang berpadu dengan sifat alami seorang anak tunggal yang egois melebur dalam raganya. Entah mengapa, dengan kesederhanaannya membuat dia sangat mudah untuk bergaul dan mendapatkan teman. Tetapi dibalik kesederhanaannya terdapat ego yang sangat besar yang membuat teman temannya kaget

Walau kadang merugikan, egoisme membantu dia tetap konsisten dengan kesederhanaan. Dia tidak peduli kepada pendapat orang terhadapnya.
Dia hanya akan melakukan apa yang ingin dia lakukan
Dia hanya akan berkata apa adanya
Dia hanya akan memakai apa yang menurutnya nyaman

Tapi kesederhanaan yang telah dari kecil dicontohkan orang tuanya memudar. Hatinya tidak teguh. Dia telah kalah. Kalah dengan gengsi

Segala aspek sosial yang dipercayainya memudar oleh gengsi

Segala kehormatan yang dia pegang teguh digrogoti gengsi

Segala prinsip hidup yang dia teguhkan roboh oleh gengsi

Gengsi, mider, rendah diri, apapun namanya
Sebegitu berpengaruhkan dalam kehidupan
Sebegitu kuatkah
Sebegitu sakitkah saat memikulnya
Dia tidak sanggup
Dia menyerah
Dia kalah

Gengsi emang rada tai. Kayak gengsi ngatur semuanya. Gengsi ngatur lu ada distrata mana. Gengsi ngatur lu bolehnya gaul ama siapa siapa aja. Gengsi ngatur lu boleh kemana aja

Kenalan ama doi berani nggak lu?
She out of my league

Malam ini ke CK yuk?
Males ah, gue nggak punya baju

Besok cabut kepuncak nyak?
Nggak deh, banyak anak gaulnya

Ini ni semua tai tau nggak

Oke, mungkin gue agak berlebihan. Tapi ini emang beneran ada di sela sela kehidupan sosial gue. Gue secara rendah hati mengakui kalau gue hanya manusia biasa yang juga bisa kalah dengan ego gue sendiri. Ya, gengsi juga sebaian dari ego

Dan gue sedikit muak ama semua ini. Kenapa harus ada hal kayak gini? Kenapa? Siapa yang harus disalahkan? Apakah diotak remaja remaja sekarang isinya cuma katalog doang? Yang isinya harga harga dan harga? Segalanya dinilai dengan harga. Dan bodohnya, yang lain juga ngikutin. Berlomba lomba mengikuti tren. Biar nggak minder. Berlomba lomba beli ini lah beli itu lah, biar nggak ketinggalan jaman

misalnya gini, temen lu ganti motor. sekarang doi pake kawasaki ninja. lu ngerasa minder nongkrong bareng doi. lu merasa kalo lu tu belum sederajad ama doi. Lu harus beli yang setidaknya sama ato lebih mahal dari motor doi. emang kalo lu nggak beli lu bakalan mati? meng kalo lu nggak beli lu nggak bakalan punya teman? emang kalo lu beli, lu bakalan pacaran ama pevita pearce? ya nggak lah, pevita pearce tu udah jadi milik gue #salahfokus

Woke up men!!! money u are spend is come from u’r parents work, not u’r
Lu nggak pantas make uang cuma buat ngemenuhin hasrat gengsi

Contoh kecil: Adek lu yang masih sd, yang belum ngerti cara bikin anak tu kayak apa, lu kasi duit buat doi jajan. trus adek lu ngerengek ama elu minta tambahan duit buat beli iPhone 5. Buset dah, jangankan buat iPhone, buat dana pacaran aja ngos ngosan. Adek lu pengen iPhone 5 karna mupeng liat punya temennya. Lu gondok nggak? kayak gitu juga mungkin perasaan bonyok lu.

27 Dec 2013

Streotipe it's suck


Sore telah lama berlalu. Langit gelap pekat. Sinar neon putih memenuhi gedung rasaksa bertingkat empat Faperta IPB. Sepi.  Hanya ada beberapa mahasiswa yang tersisa untuk sekedar menikmati wifi super cepat plus gratis kampus. Salah satunya adalah sosok cowok berperawakan sedang,  rambut berantakan, kacamata frame hitam yang selalu konsisten bergentayangan malam hari dipojokan himagron. Ya, itu gue

Seperti malam malam jum’at biasa, gue bersenjatakan seragam kebanggaan (kaos oblong + celana pendek = ganteng), si beni (leptop gue) , chargeran beni, mouse, dan headset dengan suka rela ngejagain pojok himagron. buat apalagi kalo bukan buat download film. Yes, i love it

Gue yang notabane orang padang nggak pelit, kayak streotipe orang pada umumnya. Gue hanya nggak mau rugi haha . Dan karna gue udah bayar uang semenster gue berhak dong buat make wifi kampus :p

Orang padang seenaknya distreotipein sebagai orang yang pelit. Gue yang notabenenya orang padang secara pribadi tersinggung dengan film bajai bajuri yang mempelopori streotipe tersebut. Tapi karna sinetronnya kocak banget dan bisa bikin gue sakit perut nggak apa apa deh, gue maafin kok

Pertannyaannya disini adalah kenapa people sangat mudah terpengaruh streotipe. Sebegitu hebatkah pengaruh streotipe. Just like orang padang pelit, orang medan pencopet, orang timur kasar, orang sunda cantik, orang jawa ulet dll....

All individual is different, u know that

Bukannya di biologi SMP dijelasin kalo gen tiap manusia itu berbeda. Gen lah yang membawa sifat. Kalo tiap gen manusia berbeda berarti sifat tiap manusia berbeda juga kan. So, sifat nggak ada hubungannya dengan kultur dan sebagainya. Thanks to mendel for this

Sifat berbeda dengan karakter. Sifat bawaan dari lahir yang kita tau warisan dari leluhur yang dibawa gen. Sedangkan karakter adalah peleburan dari sifat yang bersifat internal dengan lingkungan eksternal. Walaupun memiliki lingkungan yang sama, bukan berarti memiliki karakter yang sama. Kenapa? Kan udah dibilang tadi, karna gennya nggak sama, it’s mean sifatnya juga nggak sama, so karakternya nggak sama pula. Kalo lu bingung rumusnya kayak gini nih:

Karakter = sifat + lingkungan
Sifat     : faktor internal
Lingkungan: faktor eksternal

Kesimpulan: Kalo lu suka ngestreotipin orang berarti lu ama aja kayak manusia barbar zaman sebelum mendel capek capek nyilangin kacang kapri